Berita
Sekolah Inklusi Tumbuh 23%, tapi Guru Pendamping Khusus Masih Sangat Kurang

Jumlah sekolah yang melayani pendidikan inklusi bagi anak penyandang disabilitas terus bertambah. Per September 2025, tercatat lebih dari 60.910 satuan pendidikan di Indonesia menyelenggarakan pendidikan inklusi atau khusus — meningkat sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan jumlah sekolah ini belum diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Pelatihan Guru Pendamping Khusus (GPK) sepanjang 2025 baru menjangkau 94 titik, jauh dari kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai sekitar 11.000 guru pendamping.
Ketua Forum Komunikasi Keprodi Pendidikan Luar Biasa se-Indonesia, Joko, menyebutkan bahwa kebutuhan GPK "masih jauh dari terpenuhi." Ia juga menyoroti bekal 2 SKS mata kuliah inklusi bagi calon guru reguler yang dinilai belum cukup untuk menghadapi situasi nyata di kelas.
Senada dengan itu, pegiat pendidikan inklusi, Arif, mengingatkan bahwa pendidikan inklusi kerap masih dipahami sebatas penyediaan fasilitas fisik semata, padahal kesiapan tenaga pendidik jauh lebih mendesak untuk dibenahi.
Data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2022 mencatat prevalensi disabilitas pada anak usia 5-19 tahun mencapai 3,3 persen, dan hanya sebagian dari mereka yang mengenyam pendidikan formal.
Bagi Yayasan Arada Putra Mandiri, temuan ini menegaskan pentingnya terus berinvestasi pada pelatihan pendamping dan tenaga pendidik, bukan sekadar menyediakan ruang kelas inklusif tanpa dukungan sumber daya manusia yang memadai.
Sumber: Navaswara.com, "Sekolah Inklusi Bertambah, Guru Pendamping Masih Langka", 27 Juli 2026.
